Oktober 24, 2015

Jelajah Langee dan Ie Rah Bersama Aceh Explorer

"Gimana Far, berapa hari dapat libur?"
"tiga hari mak, kayaknya Farag ga bisa pulang ke Langsa Idul Adha ini"
"Ya udah... Lebaran di sana aja, nanti pas Idul Fitri, lebaranlah di kampung"

Itulah sepenggal percakapan antara saya dan mamak. Merayakan lebaran idul adha di kampung orang lain seperti mati gaya saja, sanak saudara dan handai taulan tak sebanyak di kampung halaman, tapi show harus tetap berjalan.

Terpikir ide, kenapa tidak waktu liburan ini dipakai untuk melakukan sebuah aktifitas. Beberapa bulan yang lalu, waktu liburan yang hanya secuil, saya gunakan untuk mengunjungi tempat wisata di Samahani, yaitu air terjun Kuta Malaka. Waktu itu saya pergi bersama empat teman saya yang belum pernah saya jumpai, mereka datang dari Meulaboh. Dan perjalanan waktu itu sangat mengesankan. Itulah perjalanan pertama kali yang saya lakukan dengan teman baru.

Oke, kembali lagi ke aktifitas apa yang saya lakukan untuk mengisi libur hari raya idul adha.

Jempol saya sibuk menyentuh screen Hp, saya pastikan dulu, apakah pulsa saya cukup untuk sms-an dengan kawan. Sms tersebut saya tujukan ke teman saya yang dari Meulaboh, karena saya tau mereka juga anak perantau seperti saya, tidak ada salahnya untuk saling sapa, siapa tau mereka juga mempunyai rencana yang sama seperti saya.

Pucuk dicintai, ulam pun tiba. Saya mengajukan banding, maksudnya usul kepada teman saya, bagaimana kalau liburan kali ini kita ke Pulau Aceh, kita bisa menginap di sana. Membahas rencana ke Pulau Aceh yang sangat alot, akhirnya kami tidak jadi ke Pulau Aceh. Plan A tidak berhasil, kamipun beralih ke Plan B.

Plan B kami adalah trekking ke Pantai Langee. Menurut cerita yang beredar dari masyarakat dan juga para pecinta keindahan alam, pantai, gunung dan laut. Untuk menuju ke Pantai Langee, sangat tidaklah mudah. Karena Pantai Langee terletak di balik bukit, akses menuju ke sanapun terbilang sulit, salah jalan bisa tersesat di dalam hutan selama-lamanya. Oleh karena itu harus ada orang yang paham betul seluk beluk tempat tersebut. Satu hal, hutan tersebut ada empunya, siapa? Empunya adalah para masyarakat desa tersebut. Pantai Langee masih satu areal dengan Pantai Lampuuk, tapi mereka dipisahkan oleh bukit bebatuan, sayang sekali ya... Mungkin mereka ga jodoh, makanya mereka ga bisa bersatu.

Nah, untuk menuju ke Pantai Langee, harus minta izin dulu dengan Kepala Desa dan juga Mukim Lampuuk, kalau tidak dikasih ya jangan dipaksa. Kalau dikasih, akan ada satu atau dua pemuda dari Gampong yang akan menemani, mengawasi sekaligus memandu kita untuk sampai ke Langee.

Kami berangkat pada tanggal 26 September 2015, sebelum hari H, saya membahas rencana saya kepada seseorang, dan dia menyarankan untuk pakai pemandu Aceh Explorer, pemandunya adalah penduduk desa Lampuuk sendiri. Bagai menyelam minum air, jadi tidak usah mesti izin lagi sama kepala desa dan mukim, karena semuanya sudah dihandle sama pemandu dari Aceh Explorer.

Setelah dikusi alot berakhir, satu hari sebelumnya saya dan teman-teman sudah membahas apa-apa saja yang perlu dibawa, karena besok kami akan melewati hutan, sudah pasti tidak ada yang menyediakan makanan dan minuman. Alhasil harus sediakan sendiri sebelumnya. Kami membawa stok makanan, seperti roti, snack, buah, nasi, dan minuman yang paling penting.

Pada hari Sabtu, tanggal 26 September 2015, perjalananpun dimulai. Kami berlima, Saya, Miftah, Zaky, Evi dan juga Peter. Peter adalah laki-laki dari Jerman, dia tiba di Banda Aceh, setelah lima hari berlibur di Sabang, karena waktu itu masih momen idul adha, kota Banda Aceh bagaikan kota mati, tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Akhirnya Peter memutuskan untuk ikut dengan kami.


Evi, Farah, Miftah, Jun, Peter, Ril, Zaky
Sebelum menuju ke Lampuuk, kami membeli beberapa makanan dan minuman untuk persediaan kami selama perjalanan menuju Pantai Langee. Sampai di Lampuuk, kami menjumpai Pemandu Aceh Explorer di depan Masjid Rahmatullah Lampuuk, setelah bersalaman dan berkenalan, kamipun melanjutkan perjalanan ke Pantai Langee dengan sepeda motor. Jalan mulai menanjak ke atas, sesekali tanah lembur, kemudian bebatuan, gaspooooooooooooooooooool sampai mesin panas. Akhirnya berhenti dan memarkirkan sepeda motor kami di dekat salah satu perkebunan warga.

Jalan bebatuan, bisa hancur motornya apalagi matic
Trekking dilakukan selama dua jam, menyusuri jalanan tanah, kemudian batu, tanah, batu, tanah, batu lagi, tanah lagi, sesekali sungai kecil, kecil sekali, kira-kira umurnya 7 bulan, jadi masih bisa di lewati, ga mesti berenang. Buat kalian yang mau pergi kesana, usahakan pakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh, celanan panjang, baju lengan panjang, karena banyak nyamuk di hutan, cape ladenin nyamuk, mending ladenin kamu. Hahahaha.

Peter pakai T-shirt dan celana pendek, dia bilang "I must keep moving, they bite me". Jadinya dia gerak terus, supaya nyamuk ga gigit.

Banyak pohon-pohon besar yang kami temui selama perjalanan, ada juga pohon yang terlihat menyeramkan. Alhamdulillah ga terjadi apa-apa. Selama perjalanan kami hanya mendengarkan suara hewan, seperti suara belalang hutan, ada juga suara lolongan anjing yang menjaga kebun milik warga. Kami juga beristirahat sejenak dengan makan dan minum dari bekal yang kami bawa.
Istirahat setelah satu jam perjalanan
Berfoto di pohon besar
Seram pohonnya
Pohon besar
Akhirnya,setelah trekking dua jam, kamipun sampai di Pantai Langee. Wah, it's amazing, pasir putih dengan deburan ombak laut biru.... It's perfect, apalagi tidak ada orang satupun selain kami.
Langee Beach

Sembari menikmati keindahan laut dan pantai, kami makan siang bersama, sambil ngobrol dan bercanda. Setelah makan-makannya selesai, kami berjalan menyusuri pantai, ternyata tepat di sebelah kiri kami (jika kami menghadap ke pantai) ada sebuah benteng peninggalan penjajah Belanda yang sudah menyatu dengan bukit, benteng ini dulunya digunakan untuk memantau perairan laut jika ada musuh atau kapal lain yang datang, mereka langsung bombardir musuh mereka.
Tempat yang asik untuk makan, berlindung dari teriknya matahari
Benteng peninggalan Belanda
Yang lagi ber pose di atas benteng ^_^
Setelah melihat-lihat dan tentunya berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan kami ke satu tempat yang tak kalah menarik. Yaitu Ie Rah, adalah karang batu yang menyemburkan air dari bawah ke atas. Hal ini terjadi karena tekanan ombak yang menghatam bebatuan, dan menyebabkan air laut menyembur ke atas, karena air laut memasuki celah-celah yang ada di dinding bebatuan dan mencari jalan keluarnya. Semakin besar dan kuat ombak yang menghatam dinging bebatuan, semakin tinggi pula air yang menyembur ke atas.

Untuk sampai kesana, tantangannya lebih berat jika dibandingkan ke Pantai Langee, kami harus melewati bebatuan, permukaan hamparan bebatuan ini begitu absurd, sehingga sulit untuk dijelaskan, seperti bentuk meteor, ukurannya besar, tinggi juga, dan permukaan bebatuan itu berwarna hitam dan tajam sekali. Dan kamipun harus climbing, iya, kami climbing. Medannya adalah bebatuan, kemudian pasir lagi, terus bebatuan lagi, climbing lagi, terus jalan lagi. Sesekali kami harus menghadapai betapa pahitnya medan batu ini, yang membuat kami seperti mau menyerah, namun dengan bantuan pemandu Aceh Explorer kami pun berhasil melewati tantangan dan rintangan badai yang menerjang, hahahaha. Pokoknya keren deh buat pemandunya, mereka arahkan batu yang dipijak dan juga batu yang dipegang, Salut buat mereka yang handal dan profesional.

Photos By Farrah
Si Peter nyeker, padahal batunya panas banget.
Pemandu kam
Medan - Banda Aceh, Ooops, Medan Bebatuan maksunya :D
Sambil jalan pelan-pelan
Medan Pasir
Tantangan dan rintangan

 Photo By Miftah
Harus hati-hati supaya ga tergelincir
Ini spot yang lumayan bikin dag dig dug
Ini juga
 

Seteleah rocks climbing dan sands walking (hehehehe), kami tiba di Ie Rah,,,,
Kak Evi pake ilmu, airnya nyembur
Foto-foto di Ie Rah

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

I Lop Piyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu,
Dil Mera,
Har Baar yeh,
Sunne ko,
Bekaraar hai,
Kaho na pyar hai, 
Kaho na pyar hai,

Hahaha, seru, indah dan menakjubkan, 
Masya Allah..... It's sooooooooooooo beautiful, lagit biru, awan putih, pasir teh susu, sanger (warnanya), pohon-pohon, rumput hijau, trus ada bukit dan tebingnya lagi, perfect kan? Coba tempat seperti ini, mudah diakses, pasti ramai yang datang, eh kalau ramai yang datang udah ga seru lagi dong, ntar ada yang jualan, ada yang bikin lapak, ada ada aja nanti yang akan terjadi, moga-moga ga terjadi, yang penting saling menjaga, kalau ada yang melangges, langsung larang.

Di Ie Rah, kami merasakan air semburannya, wow, kuat sekali tekanannya, kami menikmati bermain air selama setengah jam, puas bermain kami beristirahat dan mengeringkan diri sambil menikmati pemandangan. Pukul tiga sore, kami mulai bergerak pulang dan ya, kami harus melewati jalan dan medan yang tadi. Tiba di tempat parkiran motor, dan melanjutkan jalan turun ke bawah, saat turun ke bawah dengan menggunakan motor, rasanya ngeri-ngeri sedap, seakan-akan bagian belakang sepeda motor saya jungkir ke depan, dua kali saya berhenti dan meminta pemandu untuk mengendarai motor saya dan saya dibonceng di belakang. Dag Dig Dug Rasanya..... Saya pikir, saya sudah celaka, tapi syukur alhamdulillah, selama perjalanan pergi dan pulang tidak ada luka gores sedikitpun. Aman dan Selamat.

Finally we arrived in downtown sekitar maghrib, Evi, Zaky, Miftah, dan Peter kembali ke penginapan, sedangkan saya, kembali ke rumah untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Terima kasih telah membaca cerita pengalaman saya menjelajah Langee dan Ie Rah.






Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar